Kita ini maunya apa sih?
Dikasih pemimpin yang gila harta, minta yang sederhana
Dikasih pemimpin yang sederhana, dibilang pencitraan.
Serba Salah :D
teringat akan kisah pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib RA. suatu hari, beliau ditanya oleh seorang, mengapa pemerintahan beliau tidak sama seperti jamannya Abu Bakar, Umar dan Usman. Pada jaman Ali, fitnah begitu besar, sehingga menimbulkan perang saudara (perang Shiffin dan Jamal). Masyarakat juga ada yang tidak percaya dengan kepemimpinan Ali.
Ali RA pun menjawab "Pada jaman Abu Bakar hingga Usman, masyarakat yang ada itu seperti Saya (Ali), sedangkan pada jaman saya, masyarakatnya seperti kamu"
Sebuah jawaban yang sangat tepat dan memberikan kritik untuk sang penanya.
Saya renungkan jawaban dari Ali bin Abi Thalib ini, tersirat bahwa sebenarnya pemimpin itu tergantung sebagaimana masyarakat yang ada di dalamnya. Bukankah pemimpim itu berasal dan lahir dari komunitas yang bernama masyarakat?
Lalu, mengapa sampai sekarang kita (khususnya Indonesia) belum menemukan sosok pemimpin yang ideal? kembali ke kisah Ali tersebut, jangan-jangan yang bermasalah bukan pada pemimpinnya, tetapi pada kitanya selaku masyarakat.
Kita belum siap melahirkan pemimpin dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang terbaik, setiap pemimpin yang muncul, yang kita pikirkan bukan mendukung kinerjanya, tetapi malah sibuk mencari celah untuk menjatuhkannya. Memberikan kritik namun melupakan untuk memberi solusi yang konkrit. Sehingga, sudah berkali-kali Indonesia berganti pemimpin, tetapi belum menemukan sosok yang ideal.
Sebaiknya kita berkaca dulu kepada diri kita, apakah kita sudah siap memiliki pemimpin yang baik? pemimpin yang adil dan bijaksana?
jawaban itu, ada ditangan kita masing-masing.
Kamis, 05 Januari 2012
Minggu, 01 Januari 2012
Bantahan "Nabi Muhammad adalah Nabi Liberal"
Berikut adalah kultuit yang disampaikan oleh @bayuprioko berisi bantahan terhadap pernyataan @ulil Abshar Abdalla terkait Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi yang liberal.
Mungkin agak sama & pernah baca, tapi jazakallah utk yg mau nyundul, sy mau komen lg tentng ulil yg bilang Nabi Muhammad Liberal
#salaharah RT @ulil: Bagi saya, figur Nabi Muhammad adalah figur yg liberal, humanis, rasional, dan bertindak secara kontekstual.
#salaharah RT @ulil: Role-model saya adalah Nabi Muhammad. Beliaulah yg mengilhami saya untuk berpikir liberal
#salaharah RT @ulil: Bagi saya, Nabi Muhammad adalah rasul dan nabi terakhir. kita hanya cukup meneladani. Beliau adalah Nabi yg liberal!
1.@ulil kembali bermain bola panas terhadap ide dan komentar serta taduhan berbalut fitnah
2. Setelah sukses menuduh Partai Islam juga liberal, yg diamini aktifis, kini dia menuduh Nabi Muhammad juga Liberal
Mungkin agak sama & pernah baca, tapi jazakallah utk yg mau nyundul, sy mau komen lg tentng ulil yg bilang Nabi Muhammad Liberal
#salaharah RT @ulil: Bagi saya, figur Nabi Muhammad adalah figur yg liberal, humanis, rasional, dan bertindak secara kontekstual.
#salaharah RT @ulil: Role-model saya adalah Nabi Muhammad. Beliaulah yg mengilhami saya untuk berpikir liberal
#salaharah RT @ulil: Bagi saya, Nabi Muhammad adalah rasul dan nabi terakhir. kita hanya cukup meneladani. Beliau adalah Nabi yg liberal!
1.@ulil kembali bermain bola panas terhadap ide dan komentar serta taduhan berbalut fitnah
2. Setelah sukses menuduh Partai Islam juga liberal, yg diamini aktifis, kini dia menuduh Nabi Muhammad juga Liberal
Minggu, 25 Desember 2011
NASIHAT BAGI PEMUDA MUSLIM DAN PENUNTUT ILMU
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :
[1]. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.
"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]
[2]. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.
Diantara perkara-perkara itu :
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :
[1]. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.
"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]
[2]. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.
Diantara perkara-perkara itu :
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.
Langganan:
Postingan (Atom)