Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :
[1]. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.
"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]
[2]. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.
Diantara perkara-perkara itu :
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.
Tampilkan postingan dengan label Hati ke Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati ke Hati. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Desember 2011
Minggu, 18 Desember 2011
Bukan Sekedar Pembelaan
Bukan Sekedar Pembelaan, ini judul yang sengaja saya pilih, ditulis dengan campuran segala emosi mulai dari marah, sedih, gembira, miris dan lain2. karena isi dari tulisan ini nantinya bukan sekedar pembelaan tetapi berusaha membuka mata kita untuk melihat lebih jernih dalam memahami sebuah persoalan. kalau ada nama-nama yang saya catut dalam tulisan ini, saya minta ijin sebelumnya, dan memang saya ingin membuka selebar-lebarnya permasalahan ini. Cerita ini sudah agak lama, dan saya pun malas untuk mengungkapkannya lagi...tetapi, masih ada saja orang yang suka membuka luka lama, entah maksudnya apa..yang jelas., nikmati saja tulisan saya ini..


26 November 2011, sore hari, kabar duka muncul di negeri Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, jembatan yang berdiri di atas Sungai Mahakam, menghubungkan Samarinda-Tenggarong dan Tenggarong Seberang menjadi nadi daerah itu rubuh hanya dalam waktu 30 detik. Jembatan yg harusnya bisa bertahan lebih dari 50 tahun, ternyata hanya sangguo bertahan kurang dari 10 tahun saja. menyedihkan.
Tentu saja, musibah tersebut menimbulkan korban jiwa, karena di sore itu, kendaraan yang melewati jalan itu sangatlah padat, ditambah pula jembatan itu memang sedang diperbaiki, sehingga kekuatan untuk menopang sekian banyak kendaraan berkurang dan mengakibatkan ambruk.
Saya yang pada saat kejadian itu berada di Jogja, mengetahui hanya melalui sosial media yaitu twitter (@aspin4565), sontak kaget, Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. lalu mulai mencari berita ke kawan-kawan, keluarga di Samarinda, dan media berita online. ALhamdulillah tidak ada dari keluarga saya yang menjadi korban. tetapi dari berbagai berita, ada puluhan yang terluka, dan puluhan pula orang yang belum diketahui kabarnya, entah tenggelam/menghilang. bener2 sebuah musibah besar di tanah Borneo. :(


26 November 2011, sore hari, kabar duka muncul di negeri Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, jembatan yang berdiri di atas Sungai Mahakam, menghubungkan Samarinda-Tenggarong dan Tenggarong Seberang menjadi nadi daerah itu rubuh hanya dalam waktu 30 detik. Jembatan yg harusnya bisa bertahan lebih dari 50 tahun, ternyata hanya sangguo bertahan kurang dari 10 tahun saja. menyedihkan.
Tentu saja, musibah tersebut menimbulkan korban jiwa, karena di sore itu, kendaraan yang melewati jalan itu sangatlah padat, ditambah pula jembatan itu memang sedang diperbaiki, sehingga kekuatan untuk menopang sekian banyak kendaraan berkurang dan mengakibatkan ambruk.
Saya yang pada saat kejadian itu berada di Jogja, mengetahui hanya melalui sosial media yaitu twitter (@aspin4565), sontak kaget, Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. lalu mulai mencari berita ke kawan-kawan, keluarga di Samarinda, dan media berita online. ALhamdulillah tidak ada dari keluarga saya yang menjadi korban. tetapi dari berbagai berita, ada puluhan yang terluka, dan puluhan pula orang yang belum diketahui kabarnya, entah tenggelam/menghilang. bener2 sebuah musibah besar di tanah Borneo. :(
Selasa, 28 Juni 2011
Bila Diri Sempit Hati
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit.
Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah lagi.
Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah lagi.
Senin, 08 Februari 2010
Sa'atnya kita merenung (Ust. Syathori Abdur Rauf)
Melamun membawa kita ke alam mimpi,mimpi seolah kita telah menjadi ahli surga. Sedangkan merenung akan membawa kita ke alam nyata,bahwa sesungguhnya kita lebih dekat ke neraka daripada ke surga
Kemuliaan tanpa ilmu dan amal bagaikan rumah tanpa naungan. lambat namun pasti waktu akan melumatkannya...
Siapa yang membebani hatinya dengan kerisauan terhadap dunia dan meremehkan dzkir kepadaNya..maka ia bagai musafir yang membebani kendaraan secara berlebihan tanpa bahan bakar yang cukup...
Ya Allah...sebelum tiba hari akhirku...antarkan aku bisa mempersembahkan yang terindah dalam hidup ini,yaitu sirnanya kepentingan diri dan kerinduan bisa bersua dengan-Mu
Langganan:
Postingan (Atom)